Tuesday, 13 December 2005

AtjeH dimata PRAMOEDYA

Banyak Seorang

SALOMO SIMANUNGKALIT

Menjelang setahun hari tsunami memberondong Aceh pada 26 Desember nanti, yang langsung menjulang dalam ingatan saya ialah pidato Pramoedya Ananta Toer tepat di hari lahirnya yang kedelapan puluh. Judul pidato tanpa teks pujangga Indonesia modern terdepan ini dalam pesta sederhana di Taman Ismail Marzuki, Minggu, 6 Februari 2005 itu: Tsunami Aceh dan Indonesia di Masa Depan.

Pram percaya Aceh akan bangkit kembali karena keberanian rakyatnya yang khas. Keberanian rakyat Aceh adalah keberanian individu. Keberanian rakyat Indonesia dari suku-suku lain adalah keberanian kelompok. ”Itu yang membedakan Aceh dengan daerah-daerah lain,” katanya. Bagian pidato Pramoedya yang paling menggetarkan, sebagaimana tekanan suara baritonnya yang selalu membuat pendengarnya tergetar, adalah ini: ”Dalam hal watak dan keberanian, saya mengatakan di Aceh banyak seorang, sementara di Jawa dan daerah lain banyak orang.”

”Menggetarkan, terutama pada bagian banyak seorang. Ini autentik dari seorang Pram,” kata kawan saya yang menggolongkan Pramoedya dan sedikit sastrawan kita ke dalam masyarakat bahasa yang kewarganegaraannya adalah kata. Golongan ini bergulat dengan kata dan sintaksis untuk mendapatkan ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimat yang bertenaga. Banyak seorang.

Itulah inovasi bahasa Pram menggambarkan watak khas rakyat Aceh yang membuat mereka mampu melalui dan bertahan pada masa-masa paling sulit sekali pun. Menggali dari kosakata bahasa sendiri, tidak terjerumus seperti banyak kaum terpelajar Jakarta memindahkan begitu saja kata-kata asing ke dalam tulisan atau omongan mereka, Pram memperkaya semantika dengan menyenggol rambu-rambu tata bahasa.

Banyak adalah numeralia taktentu. Kelas kata ini kaprah diikuti oleh nomina. Orang adalah salah satu nomina itu. Jadi, banyak orang merupakan ungkapan lazim. Reproduksinya tak terhitung, dalam naskah maupun dalam ujaran. Tak ada kejutan di sana. Ia hanya mengatakan sekumpulan orang yang jumlahnya tak dapat dipastikan oleh si pelapor. Seorang adalah frasa numeralia, dibentuk oleh gabungan numeralia pokok se- yang berarti 'satu' dan nomina orang.

Pram dalam banyak seorang memindahkan kelas kata seorang dari (frasa) numeralia ke wilayah nomina. Maka, jadilah banyak seorang yang langsung membawa ingatan kolektif kita kepada banyak individu. Namun, tampaknya banyak seorang lebih bertenaga ketimbang banyak individu terutama bila disandingkan dengan banyak orang dalam kalimat seperti ”di Aceh banyak seorang, di Jawa banyak orang”.

Dalam sajak Solitude, penyair Sutardji Calzoum Bachri pernah melakukan eksperimen semacam itu. Kata-kata mawar, duri, sayap, bumi, dan pisau ia pindahkelaskan dari nomina ke adjektiva:

yang paling mawar- yang paling duri -yang paling sayap -yang paling bumi- yang paling pisau. Banyak seorang. Bagaimana bisa? Ini paradoks!

Aha, berkenaan dengan kata barat ini tak elok rasanya bila kita tak menoleh pada inovator bahasa yang tak kalah usahanya. Parakitri T Simbolon dalam Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (terjemahannya atas buku Within Reason: Rationality and Human Behavior karya Donald B Calne) memperkenalkan sulawan sebagai terjemahan paradox, yang adalah 'a statement containing two opposite ideas that make it seem impossible or unlikely, although it is probably true'.

Ia mencari padanan paradoks dari kosakata bahasa Indonesia dan imbuhan Sanskerta yang sudah lama berterima di dalam bahasa-bahasa Nusantara. Sulawan terdiri dari imbuhan su- dan kata dasar lawan. Awalan Sanskerta su- dalam sulawan sama maknanya dengan su- dalam sunyata. Banyak seorang: sulawankah?